Saturday, October 14, 2017

ETNOMATEMATIKA

A.    Pengertian Etnomatematika
1. Pengertian awal :

The term ‘ethnomathematics’ has been used by D’Ambrosio (1985) to mean “the mathematical practices of identifiable cultural groups and may be regarded as the study of mathematical ideas found in any culture”. (Rosa & Orey, 2011 : 35).

2. Pengertian selanjutnya :

“Ethnomathematics is used to express the relationship between culture and mathematics” (D’Ambrosio, 2001: 308, dalam Heron & Barta, 2009 : 26).

Tambahan penjelasan tentang pengertian etnomatematika :

• “Until the early 1980s, the notion ‘ethnomathematics’ was reserved for the mathematical practices of ‘nonliterate’ – formerly labeled as ‘primitive’- peoples (Ascher & Ascher, 1997) “ (Francois, 2009 : 1517).

• “D’Ambrosio (1997), who became ‘the intellectual father’ of the ethnomathematics program proposed ‘a broader concept of ethno’, to include all culturally identifiable groups with their jargons, codes, symbols, myths, and even specific ways of reasoning and inferring” (Francois, 2009 : 1517).

• “This changed and enriched meaning of the concept ‘ethnomathematics’ has had its impact on the philosophy of mathematics education. From now on, ethnomathematics became meaningful in evey classroom since multicultural classroom settings are generalized all over the world. Every classroom nowadays is characterized by (ethnical, linguistic, gender, social, cultural ...) diversity”. (Francois, 2009 : 1517).

B.     Pengertian budaya (culture)
·         Koentjaraningrat (1987:9) : Budaya (kebudayaan) adalah “keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakannya dengan belajar; beserta keseluruhan dari hasil budi dan karyanya itu”.

·         “What most (definitions of culture) have in common, and what is significant to us, is that in any culture people share a language, a place, traditions, and ways of organizing, interpreting, conceptualizing, and giving meaning to their physical and social worlds” (Asher, 1991: 2, dalam Heron & Barta, 2009 : 26).

·         Culture is viewed as a group’s or person’s dialect, geographical locale, or views of the world rather than a restricted view that is solely focused on a group’s artifacts or a person’s ethnicity (Heron & Barta, 2009: 26-27).

C.    Unsur-unsur budaya
1. Yang bersifat fisik : benda-benda peninggalan (artifacts), bangunan-bangunan, dsb.

2. Yang bersifat non-fisik :

a. Yang bersifat kognitif

b. Yang bersifat afektif

c. Yang bersifat psikomotorik

D.    Hal-hal yang dikaji dalam Etnomatematika
1. Lambang-lambang, konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan keterampilan-keterampilan matematis yang ada pada kelompok-kelompok bangsa, suku, ataupun kelompok masyarakat lainnya.

2. Perbedaan ataupun kesamaan dalam hal-hal yang bersifat matematis antara suatu kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat lainnya dan faktor-faktor yang ada di belakang perbedaan atau kesamaan tersebut.

3. Hal-hal yang menarik atau spesifik yang ada pada suatu kelompok atau beberapa kelompok masyarakat tertentu, misalnya cara berpikir, cara bersikap, cara berbahasa, dan sebagainya, yang ada kaitannya dengan matematika.

4. Berbagai aspek dalam kehidupan masyarakat yang ada kaitannya dengan matematika, misalnya :

• Literasi keuangan (financial literacy) dan kesadaran ekonomi (economic awareness)

• Keadilan sosial (social justice)

• Kesadaran budaya (cultural awareness)

• Demokrasi (democracy) dan kesadaran politik (political awareness)

E.     Tujuan dari Etnomatematika
• Agar keterkaitan antara matematika dan budaya bisa lebih dipahami, sehingga persepsi siswa dan masyarakat tentang matematika menjadi lebih tepat, dan pembelajaran matematika bisa lebih disesuaikan dengan konteks budaya siswa dan masyarakat, dan matematika bisa lebih mudah dipahami karena tidak lagi dipersepsikan sebagai sesuatu yang ‘asing’ oleh siswa dan masyarakat.

• Agar aplikasi dan manfaat matematika bagi kehidupan siswa dan masyarakat luas lebih dapat dioptimalkan, sehingga siswa dan masyarakat memperoleh manfaat yang optimal dari kegiatan belajar matematika.




BUAT TAMBAH TAMBAHAN

Untuk tambahan Pendahuluan
Shirley (Agus Hartoyo, 2012), berpandangan bahwa sekarang ini bidang etnomatematika, yaitu matematika yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat dan sesuai dengan kebudayaan setempat, dapat digunakan sebagai pusat proses pembelajaran dan metode pengajaran, walaupun masih relatif baru dalam dunia pendidikan. Etnomatematika membutuhkan interpretasi yang dinamis. Sebagaimana dikemukakan oleh D'Ambrosio (1991) bahwa "The term requires a dynamic interpretation because it describes concepts that are themselves neither rigid nor singularnamely, ethno and mathematics". Istilah etno menggambarkan semua hal yang membentuk identitas budaya suatu kelompok, yaitu bahasa, kode, nilai-nilai, jargon, keyakinan, makanan dan pakaian, kebiasaan, dan sifat-sifat fisik. Sedangkan matematika mencakup pandangan yang luas mengenai aritmetika, mengklasifikasikan, mengurutkan, menyimpulkan, dan modeling. Etnomatematika berfungsi untuk mengekspresikan hubungan antara budaya dan matematika. Dengan demikian, etnomatematika adalah suatu ilmu yang digunakan untuk memahami bagaimana matematika diadaptasi dari sebuah budaya.

Untuk Tujuan
Menguasai dan mampu menggali serta mengidentifikasi ide-ide baik pemikiran maupun praktik yang dikembangkan oleh semua kalangan budaya sekitar, baik yang bersifat statis maupun dinamis yang berkembang dan merupakan warisan dari nenek moyang hingga saat ini baik yang berupa artefak, karya sastra maupun tradisi, yang dapat digunakan untuk membangun pemikiran dan bangunan matematika serta memanfaatkan dan mengaplikasikannya untuk pengembangan pembelajaran matematika berbasis pada kajian teori dan kajian riset untuk mempersiapkan diri memperoleh kompetensi sebagai guru matematika yang profesional.


UNTUK SARAN
Kurang dapat mengidentifikasi unsur matematika yang terdapat pada tempat - tempat tersebut.
Pengidentifikasian unsur matematika kurang bervariasi karena sebagian besar mahasiswa hanya
mengamati bentuk geometri saja.

UNTUK PENDAHULUAN
Matematika telah menjadi bagian dari kebudayaan manusia sudah sangat lama. Di mulai dari jaman pra sejarah, jaman bangsa Mesir kuno, bangsa Yunani, bangsa India, bangsa Cina, bangsa Romawi, hingga bangsa Eropa di masa kini. Kreasi manusia dalam bentuk kebudayaan terwujud dalam bentuk gagasan, aktivitas maupun artefak. Nilai-nilai yang tersimpan dalam perilaku budaya manusia menunjukkan daya rasa estetis dan daya kreasi manusia. Integrasi antara matematika dan budaya dalam bentuk yang kontekstual dan realistik. Matematika sebagai bagian dari kebudayaan dapat diterapkan dan digunakan untuk menganalisis hal-hal yang sifatnya inovatif. Jadi, matematika dapat digunakan sebagai alat untuk mengembangkan budaya yang unggul. Selain itu, usaha untuk menyelesaikan permasalahan yang timbul, sadar atau tidak
manusia telah menggunakan matematika. Begitu juga dalam pola hidup suatu komunitas masyarakat dalam mempertahankan kebudayaannnya, dimungkinkan komunitas masyarakat
tersebut menggunakan ide-ide matematis. Ide-ide matematis dalam konteks kegiatan budaya mulai dipandang oleh para ahli pendidikan matematika sebagai suatu hal Sifat matematika cenderung linier dan kaku, tetapi apabila diintegrasikan dengan sesuatu yang soft seperti budaya, maka pemikiran itu menjadi lentur. Misalnya memikirkan bentuk-bentuk keindahan arsitektur. Struktur bangunan dipikirkan dengan matematika tetapi ornamennya menggunakan aestetika. Kelenturan tersebut muncul ketika memikirkan struktur bangunan tidak semata dari aspek bentuk
(geometri tiga dimensi), tetapi juga mempertimbangkan rasa keindahan bentuk tersebut. Berbagai produk budaya warisan leluhur kita menampakkan kreativitas seni yang mengandung unsur matematika. Contohnya pada motif songket yang mengandung bentukan geometri dua
dimensi, ornamen ukiran maupun bentuk arsitektur pada rumah adat yang mengandung pola geometri tiga dimensi. Warisan budaya dapat dikembangkan sesuai dengan konteks masa kini. Produk-produk budaya berupa artefak seperti arsitektur bangunan, meubel ukiran, songket yang
semula memiliki motif atau ornamen yang sudah pakem diberi peluang untuk dikembangkan melalui berpikir kreatif matematis. Di lain pihak, matematika modern muncul dengan ditandai dengan wujudnya teori himpunan yang merata di setiap kurikulum. Pijakannya dikembangkan dari pendekatan matematika yang berlandaskan mantikisme dan formalisme semata-mata.
Dengan kata lain, matematika modern terlalu patuh terhadap kaidah-kaidah yang ditetapkan oleh matematikawan Eropa. Selain itu, Matematika modern terlalu menekan kepada aturan-aturan begitu sehingga pelajar matematika ‘tidak lagi’ memiliki kebebasan untuk melakukan caracara
penyelesaian yang berbeda. Upaya pengaitan matematika dengan budaya kembali didengungkan oleh beberapa ahli matematika. Matematika yang betul-betul digali berdasarkan kearifan lokal yang dimiliki oleh komunitas pemegang budaya tersebut. Upaya ini selanjutnya lebih dikenal dengan istilah Etnomatematika. Etnomatematika muncul bukan karena kegagalan Matematika Modern, tetapi didasarkan pada kesadaran baru tentang pengenalan potensi diri setiap kumpulan
masyarakat terutama di bidang matematika. Kurikulum matematika selama ini tidak mampu menghilangkan perasaan rendah diri dari masyarakat masyarakat dunia ketiga, kerana pendidikan matematika selama ini sarat dengan teori-terori yang ditemukan oleh orang dari benua eropa,
sedangkan budaya yang merupakan kearifan lokal itu sendiri terabaikan. Di sisi lain, suatu pembelajaran matematika akan berkembang ke arah yang optimal apabila  Etnomatematika dalam bentuk dan tujuan asalnya oleh D’Ambrosio pada tahun 1977 itu berupa penggalian sejarah matematika dari budaya sendiri dan psikologi pembelajaran serta pengajaran anak bangsa sendiri. Etnomatematika muncul atau jawaban atas dominasi keilmuan secara Eropusatisme, tetapi tidak juga bertujuan untuk membelokkan sejarah matematika ke arah etnosentrisme. Penekanannya lebih kepada kebenaran dan kesimbangan sejarah. Sebagai contoh, banyak matematika atau prinsip sains yang berasal dari kebudayaan Islam tetapi kemudian diabaikan, atau ada unsur matematika yang sama dalam budaya sendiri tetapi tidak mau mengkajinya apatah
lagi memaparkan kepada dunia atau dimasukkan ke dalam kurikulum. Menurut Barton (Barton, 1994: 196), etnomatematika merupakan kajian yang meneliti cara sekelompok orang dari
budaya tertentu dalam memahami, mengekspresikan, dan menggunakan konsep-konsep serta praktik-praktik kebudayaannya yang digambarkan oleh peneliti sebagai sesuatu yang matematis..
Oleh karena Ethnomathematics adalah sebuah kajian keilmuan haruslah memiliki objek kajian. Objek kajian dari etnomatematika yaitu untuk mengungkap organisasi dari ide (konsep) yang tidak terpisah dari aktivitas matematika. Objek kajian etnomatematika didapatkan dengan dua cara yaitu: (1) menginvestigasi aktivitas matematika yang terdapat dalam kelompok budaya tertentu; (2) mengungkap konsep matematis yang terdapat dalam aktivitas tersebut (Barton, 1994: 196). Atas dasar pentingnya pengaitan budaya dengan pembelajaran matematika, maka penelitian etnomatematika perlu mendapat ruang.

TAMBAHAN UNTUK BUDAYA
Matematika dan Budaya
Kebudayaan berasal dari kata sansekerta yaitu buddayah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia arti budaya adalah pikiran dan akal budi. Dengan demikian budaya dapat dipandang sebagai sesuatu yang berkaitan dengan akal budi dan pikiran. Sedangkan kebudayaan berarti keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yangdigunakan untuk memahami
lingkungan serta pengalamannya dan yang menjadi pedoman tingkah lakuknya. Menurut E. B. Tylor budaya merupakan keseluruhan aktivitas manusia, termasuk pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat-istiadat, dan kebiasaan kebiasaan lain (Ratna, 2005). Sedangkan
menurut ilmu antropologi, budaya merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar (Koentjaraningrat, 1985). Hal tersebut berarti bahwa hampir seluruh aktivitas manusia merupakan budaya atau kebudayaan karena hanya sedikit sekali tindakan manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang tidak memerlukan belajar dalam membiasakannya. Sedangkan ahli sejarah budaya mengartikan budaya sebagai warisan atau tradisi suatu masyarakat. Kajian tentang kebudayaan dibagi menjadi tujuh unsur yang dapat ditemukan pada semua bangsa di dunia, meliputi:
a. Bahasa, dengan wujud ilmu komunikasi dan kesusteraan mencakup bahasa daerah, pantun, syair, novel-novel, dan lain sebagainya.
b. Sistem pengetahuan, meliputi science (ilmu-ilmu eksak) dan humanities (sastra, filsafat, sejarah, dsb).
c. Organisasi sosial, seperti upacaraupacara (kelahiran, pernikahan, kematian).
d. Sistem peralatan hidup dan teknologi, meliputi pakaian, makanan, alat-alat upacara, dan kemajuan teknologi lainnya.
e. Sistem mata pencaharian hidup. Sistem mata pencaharian adalah cara yang dilakukan oleh sekelompok orang sebagai kegiatan sehari-hari guna usaha pemenuhan kehidupan, dan menjadi
pokok penghidupan baginya seperti bertani, berlayar, dan sebagainya.
f. Sistem religi, baik sistem keyakinan, dan gagasan tentang Tuhan, dewa-dewa, roh, neraka, surga, maupun berupa upacara adat maupun benda-benda suci dan benda-benda religius (candi dan patung nenek moyang) dan lainnya.
g. Kesenian, dapat berupa seni rupa (lukisan), seni pertunjukan (tari, musik,) seni teater (wayang), seni arsitektur (rumah, bangunan, perahu, candi, dsb),berupa benda-benda indah, atau
kerajinan. Perkembangan matematika tidak hanya disatu lokasi saja, tetapi tumbuh dan berkembang di berbagai belahan bumi ini. Matematika tumbuh dan berkembang di wilayah India, Amerika, Arab, Cina, Eropa, bahkan Indonesia dan juga daerah yang lain. Pertumbuhan dan perkembangan matematika terjadi karena adanya tantangan hidup yang dihadapi manusia di berbagai wilayah dengan berbagai latar belakang budaya yang berbeda. Setiap budaya mengembangkan matematika dengan cara mereka sendiri, sehingga matematika dipandang sebagai hasil akal budi (pikiran) manusia dalam aktivitas masyarakat seharihari. Hal ini sejalan dengan pendapat yang mengatakan bahwa matematika merupakan produk budaya yang merupakan hasil abstraksi pikiran manusia, serta alat pemecahan masalah. Sebagaiman diungkapkan oleh Sembiring dalam Prabowo (2010) bahwa matematika adalah konstruksi
budaya manusia. Pandangan matematika sebagai elemen budaya bukanlah sesuatu yang baru. Ahli antropologi telah mengkajinya tetapi karena pengetahuannya tentang matematika
menyebakan generalisasinya menjadi terbatas, rekasi utama mereka hanya terbatas pada titik tertentu saja misalnya pengetahuan artimatika pada budaya primitif (Wilder, 1950). Meskipun begitu, ada juga ahli antroplogi yang mampu menjelaskan tentang lokus matematika realistik yang terinspirasi dari kajian para filsuf dan matematikawan (White, 1947)

TAMBAHAN UNTUK ETNOMATEMATIKA
Etnomatematika dalam Pengertian
Penelitian tentang Etnomatematika pertama kali diperkenalkan pada tahun 1977 oleh D'Ambrosio, yang merupakan seorang matematikawan Brasil. Beliau mendefinisikan etnomatematika sebagai berikut:

The prefix ethno is today accepted as a very
broad term that refers to the socialcultural
context and therefore includes language, jargon,
and codes of behavior, myths, and symbols. The
derivation of mathema is difficult, but tends to
mean to explain, to know, to understand, and to
do activities such as ciphering, measuring,
classifying, inferring, and modeling. The suffix
tics is derived from techné, and has the same root
as technique” (Rosa & Orey 2011).

Secara bahasa, etnomatematika terdiri tiga kata yaitu awalan “etno” diartikan sebagai sesuatu yang sangat luas yang mengacu pada konteks sosial budaya, termasuk bahasa, jargon, kode perilaku, mitos, dan symbol. Yang kedua kata dasar “mathema” cenderung berarti menjelaskan, mengetahui, memahami, dan melakukan kegiatan seperti pengkodean, mengukur, mengklasifikasi, menyimpulkan, dan yang terakhir pemodelan. Akhiran “tik “berasal dari techne, dan bermakna sama seperti teknik. Sedangkan secara istilah etnomatematika diartikan sebagai:

"The mathematics which is practiced among
identifiable cultural groups such as nationaltribe
societies, labour groups, children of
certain age brackets and professional classes" (D'Ambrosio, 1985)

Artinya: “Matematika yang dipraktekkan di antara kelompok budaya diidentifikasi seperti masyarakat nasional suku, kelompok buruh, anak-anak dari kelompok usia tertentu dan kelas profesional" (D'Ambrosio, 1985) Istilah tersebut kemudian disempurnakan menjadi:

"I have been using the word ethnomathematics as
modes, styles, and techniques ( tics ) of
explanation, of understanding, and of coping with
the natural and cultural environment ( mathema )
in distinct cultural systems ( ethno )"
(D'Ambrosio, 1999, 146).

Artinya: "Saya telah menggunakan kata Etnomatematika sebagai mode, gaya, dan teknik (tics) menjelaskan, memahami, dan menghadapi lingkungan alam dan budaya (mathema) dalam sistem budaya yang berbeda (ethnos)" (D'Ambrosio, 1999, 146). Berdasarkan definisi tersebut,
etnomatematika dapat diartikan sebagai matematika yag dipraktikkan oleh kelompok budaya, seperti masyarakat perkotaan dan pedesaan, kelompok buruh, anak-anak dari kelompok usia tertentu, masyarakat adat, dan lainnya. D'Ambrosio (1985) menyatakan bahwa tujuan dari adanya etnomatematika adalah untuk mengakui bahwa ada cara-cara berbeda dalam melakukan matematika dengan mempertimbangkan pengetahuan matematika akademik yang dikembangkan
oleh berbagai sektor masyarakat serta dengan mempertimbangkan modus yang berbeda di mana budaya yang berbeda merundingkan praktek matematika mereka (cara mengelompokkan, berhitung, mengukur, merancang bangunan atau alat, bermain dan lainnya). Dengan demikian, sebagai hasil dari sejarah budaya matematika dapat memiliki bentuk yang berbeda-beda dan berkembang sesuai dengan perkembangan masyarakat pemakainya. Etnomatematika menggunakan konsep matematika secara luas yang terkait dengan berbagai aktivitas matematika,
meliputi aktivitas mengelompokkan, berhitung, mengukur, merancang bangunan atau alat, bermain, menentukan lokasi, dan lain sebagainya. Matematika memiliki sejarah panjang
sebagai disiplin ilmu yang bebas budaya yang tersisih dari nilai-nilai sosial (D’ambrossio, 1990).
Konsep Etnomatematika
Istilah ethnomathematics dalam bahasa Indonesia masih sangat jarang ditemukan, baik dalam kamus bahasa Indonesia maupun dalam kajian matematika yang dilakukan oleh para pemerhati disiplin ilmu matematika. Sebaliknya, ethnomathematics telah banyak dikaji dan diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu. Salah seorang ahli sains dari Malaysia, Shaharir Mohamad Zain menurunkan tulisannya dalam Berita Harian Online (18 Juni, 1997) menulis tentang Ethnomathematics ke dalam bahasa Melayu menjadi “etnomatematik” yang merujuk kepada upaya mengangkat etnis Islam Melayu yang selama ini berada dalam tatanan pengetahuan yang masih rendah baik di dalam bidang science pada umumnya maupun dalam bidang matematika khususnya. Menurut Shaharir, sejak tahun 1991, bidang “etnomatematik” dikaji secara bersama-sama melalui bidang ilmu sains dan menjadi satu sub-bidang sains matematik untuk diajarkan dalam ruangan kelas. Jika kata ethnomathematics telah diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu menjadi “etnomatematik,” seharusnya istilah ini dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “etnomatematika” yang dibangun dari sufiks etno- yang merujuk pada kelompok budaya dan matematika yang merupakan istilah yang sudah lama dikenal dan sudah menjadi disiplin ilmu tersendiri yang diajarkan di lingkungan pendidikan formal dan informal di Indonesia. Oleh karena itu, penulis menggunakan istilah “etnomatematika” sebagai transliterasi dari istilah ethnomathematics dan selanjutnya istilah etnomatematika digunakan pada kajian-kajian selanjutnya dalam pembahasan ini.
Seperti pembahasan sebelumnya, D’Ambrosio (dalam Rosa dan Orey, 2008:2-3) menguraikan etnomatematika secara etimologi melalui tiga akar kata dalam bahasa Yunani, ethno-, -mathema-, dan –tics untuk menjelaskan yang dimaksud dengan etnomatematika. Dalam perspektif ini, D’Ambrosio (1985:5) memberi definisi tentang etnomatematika sebagai ilmu matematika yang dipraktikkan oleh kelompok-kelompok budaya yang berbeda yang diidentifikasi sebagai masyarakat pribumi, kelompok pekerja, kelas-kelas profesional, dan kelompok anak-anak dari kelompok usia tertentu.
Selanjutnya Bishop (1988:182) mengemukakan bahwa ada 3 bidang yang sedang dikembangkan dalam etnomatematika yaitu: pertama, ilmu matematika dalam konteks budaya tradisional, seperti penelitian yang dilakukan oleh Asher (1991), Zaslavky (1973), Lean (1986) dan Haris (1991). Penelitian ini menggunakan pendekatan antropologi; kedua perkembangan matematika dalam masyarakat di negara-negara yang bukan negara Barat. Misalnya penelitian yang dilakukan oleh Ronan dan Needham (1981), Yoseph (1991), dan Gerdes (1991) dalam Bishop (1994). Penelitian ini menggunakan pendekatan sejarah yang didasarrkan pada dokumen-dokumen masa lampau; dan ketiga, ilmu matematika yang dimiliki oleh berbagai kelompok, misalnya penelitian yang dilakukan oleh Lave (1984), Saxe (1990), Deabreu (1988), dan Carraher (1985) dalam Bishop (1994). Penelitian ini menggunakan pendekatan psikologi sosial, yang fokusnya menekankan pada penggunaan matematika dalam situasi kehidupan nyata.

Etnomatematika sebagai ilmu matematika yang dipraktikkan oleh kelompok-kelompok budaya yang berbeda yang diidentifikasi sebagai masyarakat pribumi, kelompok pekerja, kelas-kelas profesional, dan kelompok anak-anak dari kelompok usia tertentu.

Friday, June 30, 2017

Pengantar Ilmu dan Filsafat 2

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
            Filsafat tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia, karena sejarah
filsafat erat kaitannya dengan sejarah manusia pada masa lampau. Filsafat yang dijadikan sebagai pandangan hidup, erat kaitannya dengan nilai-nilai tentang manusia yang dianggap benar sebagai pandangan hidup oleh suatu masyarakat atau bangsa untuk mewujudkannya yang terkandung dalam filsafat tersebut. Oleh karena itu suatu filsafat yang diyakini oleh suatu masyarakat atau bangsa akan berkaitan erat dengan sistem pendidikan yang dirasakan oleh masyarakat dan bangsa tersebut.
            Filsafat pendidikan ini sebagai usaha untuk mengenalkan filsafat pendidikan dan hal-hal lain yang berhubungan dengan itu. Adapun filsafat pendidikan adalah disiplin ilmu yang mempelajari dan berusaha mengungkap masalah-masalah pendidikan yang bersifat filosofis. Agar pendidikan mempunyai arti jelas, karena pendidikan sangat pesar peranannya dalam membina kemajuan suatu bangsa sesuai dengan filsafat yang diyakini.

B.  Rumusan Masalah
  1. Apa Pengertian Filsafat?
  2. Apa Pengertian Filsafat Ilmu Pengetahuan?
  3. Apa Kriteria Kebenaran dalam MIPA?

C.  Tujuan penulisan
  1. Untuk mengetahui apa pengertian filsafat MIPA
  2. Untuk mengetahui pengertian filsafat ilmu pengetahuan
  3. Untuk mengetahui kriteria kebenaran dalam MIPA




BAB II
PEMBAHASAN

A.     PENGERTIAN FILSAFAT
·         Filsafat secara Etimologi
Kata filsafat, yang dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah falsafah dan dalam bahasa inggris dikenal dengan istilah philosophy adalah berasal dari bahasa Yunani philoshopia. Kata philosophia terdiri atas kata philein yang berarti cinta (love) dan shopia yang berarti kebijaksanaan (wisdom), sehingga secara etimologi istilah filsafat berarti cinta kebijaksanaan (love of wisdom). Kata filsafat pertama kali oleh Phytagoras (582-496 SM). Pada saat itu arti filsafat belum begitu jelas.

·         Filsafat secara Terminologi
Secara terminologi adalah arti yang dikandung oleh istilah filsafat. Dikarenakan tentang batasan dari filsafat itu banyak , antara lain:
1. Para filsuf pra – Socrates
Para filsuf pra – Socrates mempertnayakan tentang arche, yakni awal mula atau asal usul alam dan berusaha menjawabnya dengan menggunakan logos atau rasio tanpa percaya lagi pada jawaban mitos atau legenda. Oleh sebab itu, bagi mereka, filsafat adalah ilmu yang berupaya untuk memahami hakikat alam dan realitas dengan mengendalikan akal budi.

2. Plato
Filsafat adalah pengetahuan yang mencoba untuk mencapai pengetahuan tentang kebenaran asli.
3. Aristoteles
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang senantiasa berupaya mencari prinsip – prinsip dan penyebab – penyebab dari realitas yang ada.
4. Al Farabi
Filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang hakikat bagaimana alam maujud yang sebenarnya.
5. Rene Descartes
Filsafat adalah himpunan dari segala pengetahuan yang pangkal penyelidikannya adalah mengenai Tuhan, alam, dan manusia.
6. William James
Filsafat adalah suatu upaya yang luar biasa hebat untuk berpikir yang jelas dan terang.
7. Immanuel Kant
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pangkal dari semua pengetahuan yang didalamnya tercakup masalah epistemologi (filsafat pengetahuan) yang menjawab persoalan apa yang kita ketahui.
8. Langeveld
Filsafat adalah berpikir tentang masalah – masalah yang akhir dan yang menentukan, yaitu masalah – masalah mengenai makna keadaan, Tuhan, keabadian, dan kebebasan.
9. Hasbullah Bakry
Filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta, dan juga manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia seharusnya setelah mencapai pengetahuan tersebut.
10.  Louis O. Kattsoff
Filsafat merupakan suatu analisis secara hati – hati terhadap penalaran – penalaran mengenai suatu masalah, dan penyusunan secara sengaja serta sistematis suatu sudut pandang yang menjadi suatu dasar tindakan.

11.  N. Dryarkara
Filsafat adalah perenungan sedalam – dalamnya sebab – sebab ‘ada dan berbuat’, perenungan tentang kenyataan (reality) yang sedalam – dalamnya sampai ke ‘mengapa’ yang penghabisan.

12.  Notonagoro
Filsafat menelaah hal – hal yang menjadi objeknya dari sudut intinya yang mutlak dan yang terdalam, yang tetap dan tidak berubah, yang disebut sebagai hakikat.
13.  Ir. Poedjayawijatna
Filsafat ialah ilmu yang berusaha untuk mencari sebab yang sedalam – dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran belaka.
14.  Cicero
Filsafat adalah sebagai “ibu dari semua seni” dan juga sebagai arts vitae yaitu fisafat sebagai seni kehidupan.

15.  Harold H. Titus
ü  Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis.
ü  Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang dijunjung tinggi.
ü  Filsafat adalah usaha untuk memperoleh suatu pandangan keseluruhan.
ü  Filsafat adalah analisis logis dari bahasa dan penjelasan tentang arti dan pengertian (concept).
ü  Filsafat adalah kumpulan masalah yang mendapat perhatian manusia dan yang dicarikan jawabannya oleh ahli filsafat.


16.  Sidi Gazalba
Filsafat adalah sistem kebenaran tentang segala sesuatu yang dipersoalkan sebagai hasil dari berpikir secara radikal, sistematis, dan universal.
17.  Francis Bacon
Filsafat merupakan induk agung dari ilmu – ilmu dan filsafat menangani semua pengetahuan sebagai bidangnya.
Dari serangkaian definisi diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa filsafat adalah proses berpikir secara radikal, sistematik, dan universal terhadap segala yang ada dan yang mungkin ada. Dengan kata lain, berfilsafat berarti berpikir secara radikal (mendasar, mendalam, sampai ke akar – akarnya, sitematik (teratur, runtut, logis, dan tidak serampangan) untuk mencapai kebenaran universal (umum, terintegral, dan tidak khusus serta tidak parsial).


·       Ciri – Ciri Filsafat

1. Bersifat secara menyeluruh (universal) Artinya Persoalan secara kefilsafatan tidak bersangkutan dengan objek khusus dan sebagian besar berkaitan dengan ide – ide yang besar.
2. Bersifat secara spekulatif Artinya persoalan – persoalan yang dihadapi oleh manusia melampui batas – batas ilmiah.
3. Bersangkutan dengan nilai – nilai (nilai baik dan nilai buruk) Artinya persoalan – persoalan kefilsafatan bertalian dengan penilaian baik moral, estetis, agama, maupun sosial.
4. Bersifat kritis Artinya filsafat itu suatu analisis secara kritis terhadap konsep – konsep yang artinya diterima oleh suatu ilmu.
5. Bersifat sinoptik Artinya filsafat mencakup struktur kenyataan secara keseluruhan.
6. Bersifat publikatif  Artinya jika suatu persoalan sudah mendapat jawaban dari jawaban itu akan timbul persoalan baru dan jawaban yang akan diberikan akan mengandung akibat lebih jauh.
·       Asal – Usul Filsafat

Ada 3 hal yang mendorong manusia untuk ‘berfilsafat’, yaitu sebagai berikut:
a. Keheranan
Banyak filsuf menunujukkan rasa heran (dalam bahasa Yunani Thaumsia) sebagai asal filsafat. Plato misalnya mengatakan : “Mata kita memberi pengamatan bintang – bintang, matahari dan langit. Pengamatan ini memberi dorongan untuk menyelidiki. Dari penyelidikan ini berasal filsafat”.

b. Kesangsian
Filsuf – filsuf lain, misalnya Augustinus (254 – 430 M) dan Rene Descartes (1596 – 1650 M) menunjukkan kesangsian sebagai sumber utama pemikiran. Manusia heran, tetapi kemudian ragu – ragu. Apakah ia tidak ditipu oleh panca inderanya kalau ia heran? Apakah kita tidak hanya melihat yang ingin kita lihat? Di mana dapat ditemukan kepastian? Karena dunia ia penuh dengan berbagai pendapat, keyakinan, dan interpretasi.
c. Kesadaran Akan Keterbatasan
Manusia mulai berfilsafat jika ia menyadari bahwa dirinya sangat kecil dan lemah terutama bila dibandingkan dengan alam sekelilingnya. Manusia merasa bahwa ia sangat terbatas dan terikat terutama pada waktu mengalami penderitaan atau kegagalan. Dengan kesadaran akan keterbatasan dirinya ini manusia mulai berfilsafat. Ia mulai memikirkannya bahwa di luar manusia yang terbatas pasti ada sesuatu yang tidak terbatas.

·       Manfaat filsafat dalam kehidupan adalah :
1.      Sebagai dasar dalam bertindak.
2.      Sebagai dasar dalam mengambil keputusan.
3.      Untuk mengurangi salah paham dan konflik.
4.      Untuk bersiap siaga menghadapi situasi dunia yang selalu berubah.



·        Pembagian (Cabang – Cabang) Filsafat

Filsafat pada umumnya dibagi ke dalam 2 kelompok secara garis besar, yaitu filsafat sistematis dan sejarah filsafat.
Filsafat sistematis bertujuan dalam pembentukan dan pemberian landasan pemikiran filsafat. Didalamnya meliputi logika, metodologi, epistemologi, filsafat ilmu, etika, estetika, metafisika, filsafat ketuhanan (teologi), filsafat manusia, dan kelompok filsafat khusus seperti filsafat sejarah, filsafat hukum, filsafat komunikasi, dan lain – lain.
Adapun sejarah filsafat adalah bagian yang berusaha meninjau pemikiran filsafat disepanjang masa. Sejak zaman kuno hingga zaman modern. Bagian ini meliputi sejarah filsafat Yunani (Barat), India, Cina, dan sejarah filsafat Islam.
Pembagian filsafat menurut para ahli diantaranya sebagai berikut:
Pembagian Plato
Plato membagi filsafat menjadi 3 yaitu;
1.      Dialektika : Tentang ide – ide atau pengertian – pengertian umum.
2.      Fisika : Tentang dunia materiil
3.      Etika : Tentang kebaikan

Pembagian Aristoteles
1.      Logika, tentang bentuk susuna pikiran
2.      Filosofia teoritika yang terperinci atas; a.Fisika, tentang dunia materiil (ilmu alam dan sebagainya); b.Matematika, tentang barang menurut kuantitasnya, dan; c.Metafisika, tentang “ada”
3.      Filosofia praktika, tentang hidup kesusilaan (berbuat) yang terperinci atas; a.Etika, tentang kesusilaan dalam hidup perseorangan; b.Ekonomia, tentang kesusilaan dalam hidup kekeluargaan, dan; c.Politika, tentang kesusilaan dalam hidup kenegaraan
4.      Filosofia poetika/aktiva (pencipta) – Filsafat Kesenian.

The Liang Gie membagi filsafat sistematis menjadi:
1.      Metafisika , filsafat tentang hal yang ada
2.      Epistemologi, teori pengetahuan
3.      Metodologi, teori tentang metode
4.      Logika, teori tentang penyimpulan
5.      Etika, filsafat tentang pertimbangan moral
6.      Estetika, filsafat tentang keindahan
7.      Sejarah filsafat

Louis O. Kattsoff
1.      Logika
2.      Metodologi
3.      Metafisika
4.      Epistemologi
5.      Filsafat biologi
6.      Filsafat psikologi
7.      Filsafat antropologi
8.      Filsafat sosiologi
9.      Etika
10.  Estetika
11.  Filsafat agama
Dari pembagian cabang filsafat menurut beberapa tokoh tersebut, tampak luas bidang yang menanggapi persoalan kefilsafatan. Karena sangat luasnya cakupan maka sering ada kesulitan untuk membahas setiap masalah sampai tuntas.


Berdasarkan 3 jenis persoalan filsafat yang utama yaitu:
1.      Persoalan keberadaan (being) atau eksistensi (existence). Persoalan keberadaan atau eksistensi bersangkutan dengan cabang filsafat, yaitu metafisika.
2.      Persoalan pengetahuan (knowledge) atau kebenaran (truth). Pengetahuan ditinjau dari segi isinya berkaitan dengan cabang filsafat, yaitu epistemologi. Adapun kebenaran ditinjau dari segi bentuknya bersangkutan dengan cabang filsafat, yaitu logika.
3.      Persoalan nilai – nilai (values). Nilai – nilai dibedakan menjadi 2, nilai kebaikan tingkah laku dan nilai keindahan. Nilai kebaikan tingkah laku bersangkutan dengan cabang filsafat yaitu etika. Nilai keindahan bersangkutan dengan cabang filsafat yaitu estetika.


B.      PENGERTIAN FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN
Setelah dipahami pengertian Filsafat, dan pengertian Ilmu pengetahuan, maka dapat disimpulkan bahwa Filsafat Ilmu pengetahuan adalah kajian secara mendalam tentang dasar-dasar ilmu pengetahuan, sehingga filsafat ilmu pengetahuan dapat menjawab beberapa persoalan, seperti:
1. Persoalan dalam landasan dimensi Ontologis
Persoalan tentang Objek apa yang ditelaah ?, Bagaimana wujud yang hakiki dari objek tersebut ?, Bagaimana korelasi antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa, dan mengindra) yang menghasilkan ilmu ? Dari landasan ontologis ini adalah dasar untuk mengklasifikasi pengetahuan dan sekaligus bidang bidang ilmu.
2. Persoalan dalam landasan dimensi epistemologis
 Persoalan bagaimana proses pengetahuan yang masih berserakan dan tidak teratur itu menjadi ilmu ?. Bagaimana prosedur dan mekanismenya ?. Hal hal yang harus diperhatikan agar dapat diperoleh pengetahuan yang benar ?. Apa yang disebut kebenaran itu sendiri ?. Apa kriterianya ?. Cara/ teknik/ sarana apa yang membantu manusia dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu ?.


3. Persoalan dalam landasan dimensi aksiologis
 Persoalan untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan ?. Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah kaidah moral ?. Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan pilihan moral ?. Bagaimana korelasi antara teknik proseduran yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma norma moral ?.
Pengertian filsafat ilmu pengetahuan menurut Hartono Kasmadi (1990) dapat dirangkum dalam tiga (3) medan telaah, yaitu:
a. Filsafat ilmu pengetahuan adalah suatu telaah kritis terhadap metode yang digunakan oleh ilmu tertentu, terhadap lambang yang digunakan, dan terhadap struktur penalaran tentang sistem lambang yang digunakan.
Misal: untuk mengkaji ilmu empiris, ilmu rasional, bidang etika, estetika, dll.
b. Filsafat ilmu pengetahuan adalah upaya untuk mencari kejelasan mengenai dasar-dasar konsep, praduga, dan postulat mengenai ilmu , serta upaya untuk membuka tabir dasar-dasar empiris, rasional, dan pragmatis.
Misal: analisis terhadap anggapan dasar tentang kuantitas, kualitas, waktu, ruang, dan hukum, serta dapat pula sebagai studi keyakinan tertentu, maupun keyakinan dunia “sana”.
c. Filsafat ilmu pengetahuan adalah studi gabungan yang terdiri atas beberapa studi yang beraneka macam yang ditujukan untuk menetapkan batas yang tegas mengenai ilmu tertentu.


C.  KRITERIA KEBENARAN
Manusia selalu berusaha menemukan kebenaran.Banyak cara telah ditempuh untuk memperoleh kebenaran, antara lain dengan menggunakan rasio seperti para rasionalis dan melalui pengalaman atau empiris. Struktur pengetahuan manusia menunjukkan tingkatan –tingkatan  dalam hal menangkap kebenaran. Metode ilmiah yang dipakai dalam suatu ilmu tergantung dari objek ilmu yang besangkutan. Macam-macam objek ilmu antara lain fisika-kimia, makhluk hidup, psikis , sosio politis, humanistis dan religious. Filsafat ilmu memiliki tiga cabang kajian yaitu ontology, epistemology dan aksiologi.
Dalam menguji suatu kebenaran diperlukan teori-teori ataupun metode-mtode yang akan berfungsi sebagai penunjuk jalan bagi jalannya pengujian tersebut. Berikut ini beberapa teori tentang kebenaran dalam perspektif filsafat ilmu :
a.    Teori Korespondensi
Teori kebenaran korespondensi adalah teori yang berpandangan bahwa pernyataan-pernyataan adalah benar jika berkorespondensi ( berhubungan ) terhadap fakta yang ada. Kebenaran atau suatu keadaan dikatakan benar jika ada kesesuaian antara arti yang dimaksud oleh suatu pendapat dengan fakta. Suatu proposisi ( ungkapan atau keputusan ) adalah benar apabila terdapat suatu fakta yang sesuai dan menyatakan apa adanya. Teori ini sering diasosiasikan dengan teori-teori empiris pengetahuan. Ujian kebenaran yang didasarkan atas teori korespondensi paling diterima secara luas oleh kelompok realis. Menurut teori ini kebenaran adalah kesetiaan kepada realita obyektif , kebenaran adalah persesuaian antara pernyataan tentang fakta dan fakta itu sendiri, atau antara pertimbangan dan situasi yang dijadikan pertimbangan itu, serta berusaha untuk melukiskannya, karena kebenaran mempunyai hubungan erat dengan pernyataan atau pemberitaan yang kita lakukan tentang sesuatu ( Titus,1987:237 ).
Jadi secara sederhana dapat disimpulkan bahwa berdasarkan teori korspondensi suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi ( berhubungan ) dan sesuai dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut ( Suriasumantri,1990:57), Misalnya jika seorang mahasiswa mengatakan “ matahari terbit dari timur “ maka pernyataan tersebut bersifat factual atau sesuai dengan fakta yang ada matahari terbit dari timur dan tenggelam dari barat.Menurut korespondensi ada atau tidaknya keyakinan tidak mempunyai hubungan langsung terhadap kebenaran atau kekeliruan . Jika sesuatu pertimbangan sesuai dengan fakta , maka pertimbangan ini benar, jika tidak maka pertimbangan itu salah (Jujun, 1990:237)
b.        Teori Koherensi atau konsistensi
Teori kebenaran koherensi adalah teori kebenaran yang didasarkan kepadaa kriiteria koheren atau konsistensi . Pernyataan – pernyataan ini mengikuti atau membawa kepada pernyataan yang lain. Berdasarkan teori ini suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan –pernyataan sebelumnya yang dianggap benar ( Jujun, 1990:55), artinya pertimbangan adalah benar jika pertimbangan itu bersifat konsisten dengan pertimbangan lain yang telah diterima kebenarannya yaitu yang koheren menurut logika.
Suatu kebenaran tidak hanya terbentuk karena adanya koherensi atau konsistensi dengan pernyataan sebelumnya. Dengan kata lain suatu proposisi dilahirkan untuk menyikapi dan menanggapi proposisi sebelumnya secara konsisten serta adanya interkoneksi dan tidak adanya kontradiksi antara keduanya.
Misalnya bila kita mengangap bahwa “ maksiat adalah perbuatan yang dilarang oleh Allah “ adalah suatu pernyataan yang benar maka mencuri dilarang oleh Allah “ adalah benar pula, sebab pernyataan kedua adalah konsisten dengan pernyataan yang pertama. Kelompok idealis , seperti Plato juga filosof modern seperti Hegel , Bradley memperluas prinsip koherensi sehingga meliputi dunia, dengan begitu maka tiap-tipa pertimbangan yang benar dan tiap-tiap system kebenaran yang parsial bersifat terus-menerus dengan keseluruhan realitas dan memperoleh arti dari keseluruhan tersebut  (Titus 1987 :239).
.    C.   Teori Pragmatisme
Teori ini menganggap suatu pernyataan, teori atau dalil itu memiliki kebenaran bila memiliki kegunaan dan manfaat bagi kehidupan manusia. Kaum pragmatis menggunakan criteria kebenarannya dengan keguanaan (utility), dapar dikerjakan (workability), dan akibat yang memuaskan.oleh karena itu tidak ada kebenaran yang mutlak atau tetap, kebenarannya tergantung pada kerja, manfaat dan akibatnya.
Akibat atau hasil yang memuaskan bagi kaum pragmatis adalah :
1.        Sesuai dengan keinginan dan tujuan.
2.        Sesuai dan teruji dengan suatu eksperimen.
3.        Ikut membantu dan mendorong perjuangan untuk tetap eksis (ada).
Teori ini merupakan sumbangan paling nyata dari para filsuf Amerika. Tokohnya adalah Charles S. Pierce (1839-1914) dan diikuti oleh William James dan John Dewey (1859-1952).





BAB III
PENUTUP


a.      Kesimpulan.
Dari semua pengertian filsafat secara terminologis di atas, dapat ditegaskan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan memikirkan segala sesuatunya secara mendalam dan sungguh-sungguh, serta radikal sehingga mencapai hakikat segala situasi tersebut. Dan Filsafat Ilmu pengetahuan adalah kajian secara mendalam tentang dasar-dasar ilmu pengetahuan, sehingga filsafat ilmu pengetahuan dapat menjawab beberapa persoalan Filsafat mengantarkan manusia untuk lebih jernih, mendasar dan bijaksana dalam berfikir, bersikap, berkata, berbuat dan mengambil kesimpulan. Diatas juga dijelaskan ada beberapa teori kriteria kebenaran yaitu,teori korespondensi,teori koherensi atau konsistensi, dan teori pragmatisme

b.      Saran
       Agar manusia tetap memiliki filsafat ilmu yang tidak hanya memiliki tujuan tapi juga prinsip yang etimonogi seperti yang diterangkan pada BAB II.










DAFTAR PUSTAKA
Jujun S. Sumantri.2005. Filsafat Ilmu; Sebuah Pengantar Populer. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.